“Waduh, PR-ku numpuk. Ini gara – gara aku kemarin nonton pertandingan Arema lawan Persebaya. Udah, Arema kalah lagi. Tidak, aku bisa gila.”. Beginilah potret kehidupan yang menggambarkan realita perilaku kehidupan yang suka menunda – nunda pekerjaan atau istilah lainnya tidak disiplin.
Disiplin, suatu kata yang sudah tak asing di telinga kita. Banyak orang yang menjadikan disiplin sebagai moto hidup, seperti “Succes by Dicipline”. Mereka berpikiran bahwa disiplin merupakan kunci menuju kesuksesan. Mereka berpendapat bukan hanya sekedar alasan, banyak negara yang sukses dengan disiplin, seperti Amerika, Jepang, dan lain – lain. Lalu, apakah arti disiplin itu ?
Di Indonesia, banyak orang terlanjur menyamakan disiplin dengan ketertiban dan ketaatan yang ketat, sehingga muncul persepsi bahwa ketertiban dapat tercapai melalui ketaatan, padahal keduanya tak mesti berhubungan sebab - akibat. Disiplin adalah taat melaksanakan apa saja perintah atasan tanpa banyak bertanya, apalagi mempertanyakan. Padahal, asal kata disiplin tidak seperti itu.
Disciplina dalam Latin berarti petunjuk, pengajaran, pendidikan. Karena penyampuran kedisiplinan dalam dunia pendidikan menghasilkan ajaran yang bertambah matang serta ajaran baru, ilmu atau cabang suatu ilmu juga disebut disiplin. Bukan hanya ilmu-ilmu modern, petuah atau nasihat kebijaksanaan pun termasuk dalam kategori disiplin.
Metode yang dipakai untuk mencapai hasil-hasil itu juga disebut disiplin. Maka, disiplin juga berarti sistem keilmuan, kaidah-kaidah yang ketika dijalankan dengan tekun akan membuat ilmu maju tumbuh berkembang.
Seorang discipulus atau discipula adalah seorang murid atau pelajar. Dalam bahasa Inggris, disciple adalah pengikut atau murid. Disciple of Plato berarti orang yang mengembangkan filsafat menurut arah yang digariskan Plato. Seorang discipulus yang tekun dan berbakat pada akhirnya seorang disciplinatus, bijaksana dan terpelajar.
Makna ketertiban dan ketaatan berkaitan dengan pendidikan, karena suatu pendidikan yang berhasil mau tak mau mengandung unsur sanksi atau hukuman terhadap murid agar mendapat dorongan lebih kuat untuk mewujudkan potensi dirinya. Itu sebabnya mendisiplinkan berarti menghukum. Ini hanya terjadi dalam rangka memajukan proses pendidikan, mengasuh anak didik lewat penjatuhan hukuman yang membetulkan perilaku dan merangsang murid maju, bukan untuk memuaskan si pendisiplin berangkara murka.
Disiplin juga mengacu pada situasi tertib tenang tekun yang dibutuhkan dalam proses pengajaran. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, discipline berarti pelatihan, terutama atas akal budi dan kepribadian, untuk menghasilkan kemampuan menguasai diri, kebiasaan untuk taat. Intinya ada pada pembentukan akal budi yang mendarah daging, yang melahirkan seorang yang taat hukum berdasarkan hati nurani, bukan karena takut terhadap pukulan, tendangan, dan ancaman.
Pembelajaran PPKn yang merupakan pembelajaran budi pekerti, mengajarkan disiplin kurang maksimal. Sehingga, banyak murid kita berbeda persepsi mengenai pengertian disiplin dan implementasinya dikehidupan sehari – hari. Kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keingian orang lain, dan mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi. Hal inilah yang sesunguhnya menjadi hakekat dari disiplin.
Namun, arti disiplin sering ditafsirkan secara salah oleh kebanyakan orang Indonesia. Mereka berpikiran bahwa disiplin adalah pelaksanaan perintah tanpa bantah, bahkan kalau perlu tanpa berpikir. Mereka tidak mengaitkan disiplin dengan ilmu.
Jadi, Makna sekunder dari pengertian disiplin inilah yang paling menonjol di Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengaitkan istilah disiplin nasional, berdisiplin, dan mendisiplinkan hanya dengan ketertiban dan ketaatan. Fenomena inilah yang menghasilkan sistem pendidikan ala IPDN yang menunjukkan bahwa disiplin adalah patuh dan taat pada seniornya. Jika kita tidak disiplin, bersiaplah menerima pukulan, tinjuan, dan siksaan lain dari senior sebagi sanksi atas ketidakdisiplinan. Paradigma inilah yang banyak berkembang di sistem pendidikan Indonesia.
_________________
Disiplin memang sebuah kunci khusus untuk menuju sebuah kemakmuran dan kesejahteraan. Maka dari itu, Indonesia harus menerapkan kedisiplinan dengan sebenar – benarnya untuk mencapai tujuan Negara yang telah diamanatkan oleh UUD 1945.
Jika kita melihat di sekeliling kita, banyak contoh orang sukses justru berawal dari ketidakmampuan ekonomi. Mereka berusaha bangkit dari keterpurukan tersebut dengan bekerja sekuat tenaga dan kedisiplinan yang tinggi. Lambat laun, mereka telah membentuk menjadi pribadi – pribadi yang kuat, tangguh, berkemampuan soft skills yang amat baik, sehingga mereka siap mengahadapi segala halang rintang yang akan ditemui dengan menggunakan bekal yang mereka bina mulai dari kecil.
Andrie Wongso, seorang motivator terkemuka di Indonesia, ia sebenarnya hanya lulusan SD. Tapi, ia sekarang menjadi orang sukses dengan penghasilan lebih dari 4.000.000 per bulannya. Hal yang mustahil, tapi menjadi kenyataan. Semua keberhasilannya, merupakan buah kedisiplinan, kerja keras, kemampuan soft skills yang baik, serta kemampuan lain yang menunjang keberhasilannya.
Fenomena di atas juga dapat ditemui di Negara – Negara sukses, seperti Jepang, China, dan Amerika. Penduduk Negara tersebut sangat sadar bahwa mereka hidup di daerah yang sangat kurang SDA. Mereka harus dapat bertahan hidup dengan kondisi seperti itu. Keadaan seperti inilah yang membuat mereka untuk mengoptimalkan segala potensi dirinya untuk mengubah kenyataan itu, dan tidak lupa disertai dengan kedisiplinan yang baik untuk mempertahankan apa yang telah mereka lakukan.
Realita diatas sangat berbeda dengan kondisi Indonesia sekarang ini. Indonesia dengan SDA yang melimpah justru tertinggal jauh dengan Negara yang telah tersebut diatas. Justru, Indonesia malah terus berlilitan utang dengan 4 negara yang tersebut diatas.
Lalu. Apa masalah yang dialami bangsa ini ? Kesemrawutan sistem atau memang takdir ? Tapi, yang jelas Indonesia masih memiliki mental – mental yang kurang disiplin atau tidak disiplin.
Bayangkan saja, setiap pagi hari, jalan – jalan di kota selalu macet. Mereka semua ingin segera sampai ke tempat tujuan masing – masing tanpa peduli pada peraturan yang ada. Selain itu, banyak orang yang juga masih “bermain – main” dengan meteran PLN atau PDAM guna mengurangi jumlah pembayaran, padahal jumlah pengurangan yang ada tidak sebanding dengan kerugian Negara. Mereka semua ingin enak tanpa mengikuti aturan yang berlaku. Entah mereka sadar atau tidak yang jelas dosa mereka sangat besar.
Namun, kita jangan lupa dengan para koruptor kita. Korupsi di Indonesia memang sudah seperti mendarah daging. Mulai dari bendahara kelas sampai bendahara Negara pernah korupsi dengan jumlah yang berbeda – beda tergantung situasi dan kondisi. Padahal, korupsi mengambil uang rakyat/uang bersama. Jadi, mengapa korupsi mendarah daging ? Karena, anak – anak para koruptor diberi makan hasil korupsi alias uang haram.
Kita harus menyadari bahwa hidup berdisiplin, termasuk indikasi kekuatan orang atau bangsa. Orang yang disiplin mampu mengendalikan diri secara efektif sehingga mampu menggunakan kelebihannya pada saat dan tempat yang tepat. Orang berdisiplin mampu mengumpulkan dan menggunakan energi secara baik; dengan begitu juga dapat melakukan segala hal yang diinginkan secara lebih efektif. Hal ini juga berlaku bagi bangsa. Jadi, bangsa yang disiplin akan semakin makmur, sejahtera, dan tentunya semakin disegani oleh Negara lain.
Lee Kuan Yew, menteri senior di pemerintahan Singapura dan orang yang paling bertanggung jawab atas pembangunan negara itu, pernah berkata bahwa bangsa-bangsa Asia harus berdisiplin tinggi dibanding berkutat terus – menerus dengan demokrasi. Mungkin ucapan itu berlebihan, tapi memang mengandung banyak kebenaran. Itu dibuktikan oleh keberhasilan Singapura mencapai kesejahteraan tinggi dalam waktu kurang dari 50 tahun, yang dinikmati seluruh rakyatnya. Hal itu diakui banyak orang, termasuk orang Barat yang selalu mengumandangkan demokrasi.
Kini, ketidakdisiplinan yang telah terjadi di Negara ini, kini telah menjadi kanker yang sedikit demi sedikit menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak kerugian akibat ketidak disiplinan yang kita lakukan. Kerusakan fasilitas umum, bencana yang bertubi – tubi, dan bermacam – macam kerusakan yang telah terjadi di Negara ini, tak lain dan tak bukan akibat ketidakdisiplinan kita.
Namun, semua telah menjadi bubur. Walaupun efek yang dirasakan sangat besar, masih banyak saja orang yang menganggap displin adalah pengekangan terhadap kebebasan seorang individu, sebagaimana dunia kemiliteran yang mengaharuskan kita tunduk kepada atasan. Selain itu, sejak reformasi tahun 1998, kedudukan militer mengalami hujatan, kecaman, dan dianggap sebagai salah satu kekuatan untuk mempertahankan posisi seorang politikus. Sehingga, kedisiplinan yang sudah lemah, menjadi semakin lemah. Selain itu, banyak orang juga beranggapan bahwa ini adalah takdir. Ingat, nasib seseorang atau sekelompok orang tidak akan berubah sebelum ia melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri.
Tapi untungnya, pemerintah sadar akan bahaya ketidak disiplinan. Pemerintah dengan berbagai upaya berusaha untuk menekan ketidak disiplinan di Indonesia, seperti mencanangkan program – program, seperti: Gerakan Disiplin Nasional, Gerakan Hidup Aktif Nasional, dll. Namun, masalahnya semua program yang dicanangkan oleh pemerintah itu belum maksimal. Hal ini disebabkan pengurus – pengurus dari program – program yang dicanangkan pemerintah itu ternya tidak disiplin. Kebanyakan mereka bolos, pergi berbelanja, pergi ke rumah teman, dll disaat jam kerja. Alasan mereka melakukan perbuatan itu juga bermacam – macam, seperti : pekerjaan sudah selesai, waktu kosong, menganggur, dan masih banyak lagi. Padahal, masih banyak orang di kantornya yang memerlukan bantuan. Jadi, bagaimana Indonesia bisa seperti Malaysia, kalau masyarakatnya tidak disiplin.
Jika dijaman dulu, orang luar negeri berguru ke Indonesia, sekarang orang Indonesia bekerja menjadi pembantu rumah tangga di negeri tetangga. Keadaan yang “berbalik 180º”. Ini semua diakibatkan masyarakat Indonesia lebih suka menjadi konsumen dibanding produsen atau lebih suka mencari kerja dibanding membuat lapangan pekerjaan. Padahal kita tahu, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220.000.000 yang dapat ditampung menjadi pekerja tak kurang dari seperempatnya.
Masalah Lumpur Lapindo juga akibat dari bauh ketidak disiplinan. Seandainya pihak Lapindo Brantas Inc. mau mengecek secara detail peralatan tambangnya, kejadian yang memilukan dan mengahabiskan keuangan Negara itu mugkin tidak terjadi.
Sekarang, kita sudah berada di jaman globalisasi. Globalisasi berarti masuknya kebuadayaan dan perekonomian Negara lain. Pertanyaannnya apakah kita siap mengahadapi persaingan secara global dengan Negara lain ?
Kalau bangsa Indonesia tidak mampu menegakkan disiplin yang kuat, kita tidak perlu heran bahwa tidak akan ada prestasi apa pun. Oleh karena itu, kita akan selalu kalah bersaing dalam bidang apa pun dengan bangsa lain, termasuk olahraga, dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara lainnya. Indonesia yang sebenarnya memiliki banyak potensi, termasuk bakat, kecerdasan, dan ketekunan, akan menjadi masyarakat medioker. Kalau kondisi seperti itu terjadi, jangan harap syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dapat terdengar di kancah pergaulan internasional.
____________________
Indonesia sedang mengalami masalah penurunan mental yang sanagat parah. Lalu, salah siapakah ini ? Kesalahan media informasi, pemerintah, atau siapa ? Tidaj ada yang bisa disalahkan dalam masalah ini, karena semua pihak ikut terlibat dalam masalah yang sangat kompleks ini. Kita jangan tuduh menuduh, lebih baik kita instrospeksi diri kita masing – masing. Sudahkah kita berguna bagi nusa bangsa dan Negara ini ?
Penegakan kedisiplinan sangat perlu dilakukan sesegera mungkin di Indonesia. Penegakan kedisiplinan perlu dilakukan secara serentak, karena kedisiplinan membutuhkan kekompakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kepemimpinan nasional harus secara tegas menyatakan penegakan disiplin di Indonesia, disertai dengan memberikan teladan dalam sikap dan perbuatan pribadi untuk meyakinkan dan menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa pemerintah secara serius menegakkkan kedisiplinan.
Selain itu, pemerintah juga harus memaksa seluruh lembaga Negara dan seluruh masyarakat untuk melakukan perbuatan yang telah dicontohkan oleh para pemimpin, disertai pemberian sanksi kepada pelanggar kedisiplinan sesuai dengan peraturan yang telah dimusyawarahkan secara bersama. Pelanggaran terhadap peraturan sekecil apapun harus mendapat sanksi, seperti membuang sampah sembarangan, menerobos lampu merah, menyebrang sembarangan, dan lain – lain. Pemberian sanksi sangat diperlukan untuk menimbulkan efek jera, tetapi sesuai dengan batas kewajaran.
Penegakan kedisiplinan juga harus dilakukan secara continue atau berkelanjutan, maksudnya disiplin tidak hanya diberikan setelah anak masuk sekolah atau setelah masa remaja, tetapi harus sudah dilatih sejak anak baru dilahirkan ke dunia ini sehingga akan terwujud kedisiplinan jangka panjang. yaitu disiplin yang tidak hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan atau otoritas, tetapi lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri.
Berdisiplin juga harus dilakukan secara konsisten dan fleksibel, artinya berperilaku disiplin dengan tidak dipengaruhi pada situasi dan kondisi. Banyak dari masyarakat Indonesia berdisiplin “kalau ada yang lihat”. Padahal kedisiplinan harus ditunjukkan di mana saja dan dalam kodisi apapun.
Disiplin juga menunjukkan kualitas pribadi seseorang, semakin tinggi kedisiplinan seseorang, maka ia menjadi semakin “dewasa” dalam hal berpikir, bertindak , dll. Fakta ini disebabkan karena disiplin meningkatkan kualitas moral dan mental seseorang manusia. Oleh karena itu, kebanyakan orang sukses mempunyai tingkat kedisiplinan yang tinggi.
Namun, Disiplin saja tidak akan mampu mengatasi problem besar yang dialami bangsa ini. Masih banyak yang perlu dilakukan, selain perubahan sikap, kita harus bersana – sama untuk menyiapkan segala sesuatunya demi menaikkkan martabat bangsa yang kini makin tenggelam, seperti : penyediaan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur umum lainnya.
Oleh karena itu, kita jangan bermalas – malasan dalam mengerjakan sesuatu, atau menunda – nunda pekerjaan, karena perbuatan seperti itu adalah awal dari kehancuran bangsa. Kita juga jangan individulistis dan sombong, karena kita adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan makhluk lain untuk dapat bertahan hidup.
Jadi, sudah saatnya kita harus berubah, jangan menunggu – munggu besok, karena kita tidak tahu apa yang terjadi besok, dan lakukan dengan ikhlas, agar semua yang kita lakukan bermanfaat baik secara pribadi atau umum. Ingat, masa depan Indonesia ada di tangan kita. Kita yang akan menentukan akan dibawa kemana nasib bangsa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan jiwa, raga, hartanya. Maka, tunujukkan bahwa kita mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik sebagai salah satu cara kita untuk mengisi kemerdekaan.
Jikalau bangsa ini sudah bisa menerapkan berdisiplin mulai dari kecil dan bersifat continue, maka Insyaallah Negara ini akan menjadi Negara yang makmur, sejahtera, bahkan menjadi Negara adidaya baru. Dan yang jelas tidak sia – sia perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, serta kita akan semakin disegani oleh Negara lain di kancah
pergaulan internasional. Aminn….
Read More......